Hari Kartini 2017 [What’s Up Today]

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Beberapa fakta menarik yang jarang diketahui mengenai Raden Ajeng Kartini.

  1. Jl. R.A. Kartini

Di Indonesia, banyak nama pahlawan yang diabadikan sebagai nama jalan-jalan protokol, termasuk nama R.A. Kartini. Dan bukan hanya di Indonesia, nama R.A. Kartinistraat atau Jl. R.A. Kartini juga ada di kota-kota di Belanda seperti Amsterdam, Utrecth, Verloo, dan Harleem.

  1. Surat-Surat Kepada Pemerintahan

R.A. Kartini tidak cuma bersurat dengan sahabat-sahabatnya. Di usianya yang masih 20 tahun, beliau sudah berani menulis surat kepada pemerintahan Hindia Belanda. Surat pertamanya adalah pengajuan beasiswa untuk bersekolah di Belanda, yang kemudian setelah disetujui, ia kembali memohon beasiswa bersekolah di Batavia. Dan karena ia telah menikah, beasiswa tersebut diberikannya kepada Pemuda Salim dari Riau.

R.A. Kartini juga menulis surat protes kepada pemerintahan Hindia Belanda. Beliau mengusulkan agar bahasa Melayu dan bahasa Belanda, yang saat itu (sebelum Sumpah Pemuda) menjadi bahasa media cetak, dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

  1. Dari Gelap Menuju Terang

Buku R.A. Kartini “Habislah Gelap Terbitlah Terang” yang sangat terkenal itu awalnya berjudul “Dari Gelap Menuju Terang”. Buku yang berisi kumpulan surat-surat R.A. Kartini yang ditulis untuk sahabat-sahabat beliau di Eropa ini disusun oleh J.H.  Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, yang juga merupakan salah satu sahabat pena R.A. Kartini.

  1. Door Duisternis tot Licht

Awalnya, buku “Habislah Gelap Terbitlah Terang” diterbitkan di Belanda tahun 1911 di bawah judul Door Duisternis tot Licht, atau Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Baru kemudian pada tahun 1922, buku kumpulan surat R.A. Kartini tersebut diterbitkan dalam Bahasa Melayu. Dan setelah 1938, buku ini juga diterjemahkan dalam bahasa Sunda dan Jawa.

  1. Museum R.A. Kartini

Sudah pernahkah Anda mengunjungi museum R.A. Kartini? Museum yang didirikan pada 30 Maret 1975 ini berada di Desa Panggang, Kecamatan Jepara, Jawa Tengah. Namun museum ini tidak hanya diisi dengan benda-benda peninggalan Kartini, tetapi juga sejumlah warisan budaya di daerah Jepara.

  1. Bengkel Ukir Kayu

Selain memperjuangkan emansipasi wanita dengan membentuk sekolah untuk perempuan, ternyata R.A. Kartini juga mendirikan sebuah Bengkel Ukir Kayu untuk para pemuda di Rembang.

  1. Wafat Setelah Melahirkan

R.A. Kartini wafat di usia yang cukup muda, 25 tahun (pada tahun 1904), setelah melahirkan putranya, Soesalit Djojoadhiningrat. Konon, nama Soesalit merupakan singkatan dari bahasa Jawa “susah naliko alit” karena tidak pernah mengenal ibunya.

Sumber : www.gendies.com

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s